Jumat, 14 Februari 2014

Found You


            Aku bukan orang supel yang mudah bergaul. Aku lebih memilih diam dan mencari kegiatan lain selain ngerumpi di jam kosong. Aku punya teman. Dan aku juga selalu masuk lima besar di kelas. Tapi, aku butuh seorang sahabat. Aku mencari seseorang yang bisa lebih dari sekedar teman. Dan di tahun ajaran baru saat aku kelas lima SD kukira aku telah menemukannya.
Seorang siswi baru di kelasku yang baru pindah dari Jepara. Dia seorang atlet renang. Di hari pertama dia masuk aku tak banyak bicara dengannya karena aku memang bukan orang yang mudah bergaul. Berawal dari kami duduk berdua, kami mulai akrab dan lebih mengenal. Kami sering duduk bersama, cerita satu sama lain, main ke rumah satu sama lain. Lalu kami lulus. Dan sekolah di sekolah yang berbeda. Kami tidak lost contact, tapi karena mulai jarang berkomunikasi, hubungan kami merenggang. Dan aku mulai tak tahu apapun yang dilakukannya dan apa kegiatan yang ditekuninya.
Di kelasku kini, aku juga menemukan seseorang. Kami duduk bersama karena tak sengaja. Dan ketagihan. Aku selalu duduk dengannya. Dan dia memang lebih pandai dari aku. Kami makan bekal bersama dan mengikuti ekskul yang sama. Kami selalu bersama dalam tugas kelompok. Dia lebih banyak bicara dan lebih berbaur daripada aku. Jadi, saat kami jauh, aku seperti kehilangan separuh diriku. Aku tak bisa bicara pada orang lain seperti aku bicara dengannya. Kurasa aku telah menemukan sahabatku.
Dia lebih mudah menemukan bahan pembicaraan dengan siapapun ia bicara. Aku mulai merasa dia tak merasakan apa yang kurasa. Dia juga menganggapku sahabatnya, tapi dia tak merasakan apa yang kurasa saat aku tak mengobrol dengannya.
Kami naik kelas. Kini kami berada di kelas yang berbeda. Dan hal itu terbukti, dia tak lebih dari seorang teman dekat. Bukan sahabat yang kucari. Kami tetap bertukar kado di hari ulang tahun. Tapi karena waktu pertemuan yang berkurang dan dia telah menemukan teman-teman baru di kelasnya kini, hubungan kami merenggang. Kami juga sudah tak mengikuti ekskul yang sama.
Ada satu orang yang berusaha kuhindari di kelas baruku. Dia terlalu jail dan agak aneh menurutku. Aku rasa aku tak mau sebangku dengannya karena dia selalu usil dan mengejekku. Tapi keadaan membuat kami terus sebangku. Di pelajaran apapun. Walau tak semua pelajaran, tapi kami cukup sering duduk satu bangku. Dan lama kelamaan kami mulai akrab. Kami tak jarang bertengkar dan saling mendiamkan. Tak mau duduk sebangku dan acuh saat bertemu. Tapi pada akhirnya kami akan berdamai lagi. Kembali duduk sebangku dan kembali bercanda. Dan begitu seterusnya.
Kami saling memberi kejutan dan kue ulang tahun di hari ulang tahun kami. Memiliki beberapa barang couple dan saling mendukung di saat yang lain susah. Kami menceritakan apapun satu sama lain.  Dan kurasa aku terlalu sering menerima darinya. Dia begitu baik padaku. Dan aku merasa dia menyayangiku lebih dari aku menyayanginya. Ya, aku mulai menyayanginya. Sebagai seorang sahabat.
Dia lebih mudah berbaur dan menemukan bahan pembicaraan. Saat tak bersamaku dia tetap bisa banyak bicara dengan orang lain. Aku lebih pendiam. Dan tanpanya, tak ada yang bisa kubicarakan. Aku merasa hanya dia yang perlu tahu dan akan mengerti.
Dan aku kembali naik kelas. Dan begitu sedih saat kami tak lagi satu kelas. Aku rasa persahabatan yang kuharapkan ini kembali berakhir. Intensitas pertemuan kami berkurang. Jumlah SMS juga berkurang. Tapi kami tetap saling sapa dan memberi senyum. Ternyata kami kembali bertukar kado walau tak lagi memberi kejutan. Kami tetap sering jalan bersama. Ya, terkadang kami janjian hangout bareng. Dan tak jarang rencana kami gagal karena jadwal yang selalu bertabrakan.
Kini  kami sudah tak pernah lagi bertengkar. Karena ada begitu banyak hal yang ingin diceritakan saat kami bisa bersama. Bersama saat menemaninya menunggu dijemput terasa sangat menyenangkan. Dan aku sangat bahagia saat bisa menceritakan segala hal kepadanya. Dia tahu segalanya tentangku. Jadi dia pasti mengerti apa yang kubicarakan. Aku juga mengerti ceritanya. Kami selalu merasa waktu yang ada kurang.
Saat kami lulus, tentu aku berharap kembali satu sekolah dengannya. Aku mendaftar di sekolah yang sama dengannya. Nilaiku memang lebih tinggi darinya. Tapi nilai kami tak berbeda jauh dan jurnal memberi harapan kami akan kembali satu sekolah. Huh! Tapi jurnal itu hanya memberi harapan palsu dan akhirnya kami tak lagi satu sekolah.
Aku semakin sulit bertemu dengannya. Sekolah yang berbeda membuat jadwal kepulangan yang berbeda pula. Di satu waktu saat kami bisa bersama, akan selalu kami awali dengan pelukan. Aku tak melepas gandengan tangannya. Aku akan menceritakan segala hal yang terjadi di sekolah dan di rumah. Mulai dari pelajaran sampai novel yang kubaca. Bahkan temanku di sekolah juga tentang adikku. Dia juga melakukan hal yang sama. Begitu banyak hal yang terjadi saat kami tak bertemu. Bahkan waktu dua jam tak terasa dan berlalu begitu cepat. Di setiap kami jalan bersama, waktu yang kami miliki maksimal tiga jam. Dan itu sangatlah kurang.  
Dan kurasa kini pencarianku sudah berakhir. Aku telah benar-benar menemukan sahabatku. Seseorang yang kucari selama ini. Seseorang yang ingin kutemukan diantara lautan manusia di dunia. Kini aku telah menemukanmu. Sahabatku.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar