Hari dengan Binatang
“ Wiiiuuuu….!!!!”
Akhirnya
bel yang kunanti berbunyi juga. Bel yang mengakhiri UTS hari pertamaku. Dan
seperti biasa hari ini aku pulang sendiri. Aku pulang bersama Asa, Essa,
Ferdian, dan Ami. Untuk bisa naik angkot kami harus berjalan dulu setidaknya
sampai Manggala. Kami berjalan melewati
trotoar sisi kiri dan kami berencana jalan sampai CL melewati Jalan Anggrek.
Saat sedang
berjalan di trotoar, Ferdian melihat sarang burung terjatuh di tengah jalan.
Sarang burung itu sepertinya sudah terlindas mobil dan motor karena bentuknya
sudah tidak terlalu baik. Ferdian berinisiatif menolong burung yang masih ada
di dalamnya. Dia pun menendang sarang burung itu ke seberang jalan. Aku ikut
menyeberang bersama Essa. Ferdian berusaha menbuka sarang itu, namun karena
merasa takut bercampur jijik, dia mencari ranting di sekitar situ dan
menemukanya. Kemudian ada seekor anak burung yang terjatuh keluar dari sarang
itu dan tanpa sengaja Ferdian menginjaknya.
“Hii….!!”,
teriakku dan yang lain.
“Heh
kenapa?”, Ferdian bertanya dengan muka tanpa dosa.
“Burungnya
kamu injek.”, jawab Asa.
“Hiii…
Ferdian jahat.”, kata Ami dengan nada menggoda dan bercanda.
“Mana?
Aku nggak sengaja.”, kata Ferdian membela diri.
“Kasian
og…,” kataku meliahat sarang burung itu dikerubung semut.
“Bawa
pulang aja, Fer!”, usul Essa.
Ferdian
pun setuju, “Tapi bawanya gimana? Ada yang punya plastik ?”
“Eh, aku
punya, tapi plastik fotocopy gak papa kan?”, jawab Ami sambil merogoh tasnya.
“Ya gak
papa, sini…!”
Kemudian
Ferdian memasukkan burung beserta sarangnya itu ke dalam plastik dengan bantuan
ranting yang dibawanya. Kamipun berjalan lagi dan akan berbelok memasuki Jalan
Anggrek. Namun saat aku belum sampai melewati gapuranya aku menghentikan
langkahku secara tiba-tiba dan berteriak.
“Aaaaaa…..!!!!!!!”
“Kenapa?”,
Tanya salah seorang temanku.
Tanpa
kujawab, pertanyaan mereka sudah terjawab saat melihat seekor tikus mati yang
berdarah-darah dan sangat menjijikkan di depanku.
“Untung
nggak kamu injek.”
“Aku nggak
tahu kalo ada tikus mati di situ”, kata Asa yang sudah berdiri di depan karena
dia tadi sudah berjalan lebih dulu dengan Ferdian.
Kami pun
segera melewati tikus itu dan melanjutkan perjalanan sambil tertawa-tawa karena
peristiwa tadi.
“Eh, tapi
aku malu ig, masa naik angkot bawa kaya gini.”, kata Ferdian sambil mengangkat
plastik tak berwarna berisi burung yang dibawanya. Kemudian dia berjalan lebih
cepat dan mencari-cari plastik hitam di jalan bahkan tempat sampah!
“Fer,
jorok!”, kataku mengingatkan.
“Ada
warung gak? Kalo ada lebih baik kamu beli sesuatu terus minta plastik ke yang
jual.”, usulku.
“Itu ada!”,
seru Essa.
“Mau beli
apa?”, tanya Ferdian.
“Aqua
gelas aja gimana?”, Ami memberi pendapat.
“Tapi aku
gak punya uang.”, kata Ferdian.
“Nih,
pake uangku.”, Essa menawarkan. “Tapi kamu yang beli lho, Fer!”
Setelah
membeli aqua dan memperoleh plastik, Ferdian memasukkan burung itu ke plastik.
Walaupun yang didapat bukan plastik hitam seperti yang diharapkan, setidaknya
plastik putih itu cukup baik. Kami berjalan kembali dan burung di dalam plastik
itu terus bergerak-gerak. Perlahan induk burung itu menampakkan diri dan bisa
dilihat jika kita mencondongkan kepala melihat ke dalam plastik. Sepertinya
beberapa anak induk burung itu dalam keadaan tidak baik.
Kami pun
kembali jalan sambil bercerita tentang kejadian yang barusan terjadi sambil
tertawa. Setelah sampai di Simpang Lima, kami berpisah dan naik angkot yang
menuju ka rumah masing-masing. Asa bersama Essa, aku dengan Ami, dan Ferdian
ditemani makhluk kecil dalam plastik yang terus bergerak-gerak ingin
membebaskan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar