Sabtu, 15 Desember 2012

cerpenku


Hari dengan Binatang

 “ Wiiiuuuu….!!!!”
Akhirnya bel yang kunanti berbunyi juga. Bel yang mengakhiri UTS hari pertamaku. Dan seperti biasa hari ini aku pulang sendiri. Aku pulang bersama Asa, Essa, Ferdian, dan Ami. Untuk bisa naik angkot kami harus berjalan dulu setidaknya sampai Manggala.  Kami berjalan melewati trotoar sisi kiri dan kami berencana jalan sampai CL melewati Jalan Anggrek.
Saat sedang berjalan di trotoar, Ferdian melihat sarang burung terjatuh di tengah jalan. Sarang burung itu sepertinya sudah terlindas mobil dan motor karena bentuknya sudah tidak terlalu baik. Ferdian berinisiatif menolong burung yang masih ada di dalamnya. Dia pun menendang sarang burung itu ke seberang jalan. Aku ikut menyeberang bersama Essa. Ferdian berusaha menbuka sarang itu, namun karena merasa takut bercampur jijik, dia mencari ranting di sekitar situ dan menemukanya. Kemudian ada seekor anak burung yang terjatuh keluar dari sarang itu dan tanpa sengaja Ferdian menginjaknya.
“Hii….!!”, teriakku dan yang lain.
“Heh kenapa?”, Ferdian bertanya dengan muka tanpa dosa.
“Burungnya kamu injek.”, jawab Asa.
“Hiii… Ferdian jahat.”, kata Ami dengan nada menggoda dan bercanda.
“Mana? Aku nggak sengaja.”, kata Ferdian membela diri.
“Kasian og…,” kataku meliahat sarang burung itu dikerubung semut.
“Bawa pulang aja, Fer!”, usul Essa.
Ferdian pun setuju, “Tapi bawanya gimana? Ada yang punya plastik ?”
“Eh, aku punya, tapi plastik fotocopy gak papa kan?”, jawab Ami sambil merogoh tasnya.
“Ya gak papa, sini…!”
Kemudian Ferdian memasukkan burung beserta sarangnya itu ke dalam plastik dengan bantuan ranting yang dibawanya. Kamipun berjalan lagi dan akan berbelok memasuki Jalan Anggrek. Namun saat aku belum sampai melewati gapuranya aku menghentikan langkahku secara tiba-tiba dan berteriak.
“Aaaaaa…..!!!!!!!”
“Kenapa?”, Tanya salah seorang temanku.
Tanpa kujawab, pertanyaan mereka sudah terjawab saat melihat seekor tikus mati yang berdarah-darah dan sangat menjijikkan di depanku.
“Untung nggak kamu injek.”
“Aku nggak tahu kalo ada tikus mati di situ”, kata Asa yang sudah berdiri di depan karena dia tadi sudah berjalan lebih dulu dengan Ferdian.
Kami pun segera melewati tikus itu dan melanjutkan perjalanan sambil tertawa-tawa karena peristiwa tadi.
“Eh, tapi aku malu ig, masa naik angkot bawa kaya gini.”, kata Ferdian sambil mengangkat plastik tak berwarna berisi burung yang dibawanya. Kemudian dia berjalan lebih cepat dan mencari-cari plastik hitam di jalan bahkan tempat sampah!
“Fer, jorok!”, kataku mengingatkan.
“Ada warung gak? Kalo ada lebih baik kamu beli sesuatu terus minta plastik ke yang jual.”, usulku.
“Itu ada!”, seru Essa.
“Mau beli apa?”, tanya Ferdian.
“Aqua gelas aja gimana?”, Ami memberi pendapat.
“Tapi aku gak punya uang.”, kata Ferdian.
“Nih, pake uangku.”, Essa menawarkan. “Tapi kamu yang beli lho, Fer!”
Setelah membeli aqua dan memperoleh plastik, Ferdian memasukkan burung itu ke plastik. Walaupun yang didapat bukan plastik hitam seperti yang diharapkan, setidaknya plastik putih itu cukup baik. Kami berjalan kembali dan burung di dalam plastik itu terus bergerak-gerak. Perlahan induk burung itu menampakkan diri dan bisa dilihat jika kita mencondongkan kepala melihat ke dalam plastik. Sepertinya beberapa anak induk burung itu dalam keadaan tidak baik.
Kami pun kembali jalan sambil bercerita tentang kejadian yang barusan terjadi sambil tertawa. Setelah sampai di Simpang Lima, kami berpisah dan naik angkot yang menuju ka rumah masing-masing. Asa bersama Essa, aku dengan Ami, dan Ferdian ditemani makhluk kecil dalam plastik yang terus bergerak-gerak ingin membebaskan diri.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar